Menjaga Lisan di Era Digital: Fikih Berkomunikasi dan Berinternet
Panduan etika muslim dalam bermedia sosial dan berkomunikasi digital — menimbang setiap kata dan ketikan sebelum dipublikasikan.
Di era teknologi saat ini, ruang interaksi manusia telah berpindah dari tatap muka langsung ke dunia digital. Jemari yang mengetik di atas layar ponsel kini memegang peranan yang sama besarnya dengan lisan yang mengucap.
Namun, aturan syariat tidak pernah berubah: apa pun yang kita katakan maupun kita ketik, semuanya akan dicatat dan dipertanggungjawabkan.
Ketikan Adalah Bagian dari Lisan
Dalam ajaran Islam, segala bentuk ekspresi tulisan dikategorikan sama dengan ucapan lisan. Para ulama membuat kaidah:
“Pena adalah salah satu dari dua lisan.”
Setiap komentar, status, cuitan, mau pun pesan singkat yang kita kirimkan tercatat rapi oleh malaikat Raqib dan Atid.
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
— (QS. Qaf: 18)
Prinsip Penting Berinternet bagi Seorang Muslim
1. Tabayyun (Verifikasi Informasi)
Sebelum membagikan kabar atau berita, wajib hukumnya untuk memastikan kebenarannya. Menyebarkan berita bohong (hoaks) atau berita yang belum dipastikan kebenarannya termasuk dosa besar.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun)…”
— (QS. Al-Hujurat: 6)
2. Hindari Ghibah Digital dan Cyberbullying
Menggunjing (ghibah), mencela, atau merendahkan orang lain di kolom komentar tidak kalah dosanya dibanding ghibah secara langsung. Bahkan di dunia digital, dampaknya bisa lebih luas dan bertahan lama.
3. Berkata Baik atau Diam
Nasihat Nabi ﷺ ini sangat relevan untuk ruang digital:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
— (HR. Bukhari & Muslim)
Jika jemari kita tidak bisa mengetikkan kebaikan, dorongan terbaik adalah tidak mengetikkan apa pun.
3 Pertanyaan Sebelum Mengunggah atau Berkomentar
Sebelum menekan tombol send atau post, tanyakan tiga hal ini pada diri sendiri:
- Apakah ini Benar? (Bukan hoaks, fitnah, atau prasangka).
- Apakah ini Bermanfaat? (Apakah postingan ini membawa kebaikan bagi yang membaca, atau sekadar memicu perdebatan sia-sia?).
- Apakah ini Santun? (Apakah bahasanya tidak melukai atau merendahkan martabat orang lain?).
Kesimpulan
Jejak digital mungkin bisa dihapus di layar manusia, tetapi jejak amalan di akhirat kelak tidak akan terhapus kecuali dengan taubat. Mari jadikan media sosial kita sebagai sarana menanam pahala jariah, bukan dosa jariah.